JAKARTA, RAKYAT-INDONESIA.COM – Penggunaan obat secara sembarangan dan berkepanjangan perlu diwaspadai di tengah meningkatnya perhatian terhadap kasus pasien usia muda yang menjalani cuci darah atau hemodialisis.
Pakar kesehatan masyarakat dan epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman, mengatakan sejumlah obat antinyeri yang dikonsumsi berlebihan atau dalam jangka panjang dapat membahayakan fungsi ginjal, terutama pada orang yang memiliki faktor risiko tertentu.
Selain obat, konsumsi produk herbal dan suplemen yang tidak jelas kandungan maupun keamanannya juga perlu diperhatikan apabila digunakan terus-menerus tanpa pengawasan tenaga kesehatan.
“Jangan lupa ada faktor obat dan herbal, ini yang kurang dibicarakan dalam edukasi publik. Jadi penggunaan obat antinyeri tertentu secara berlebihan atau berkepanjangan juga pada orang dengan risiko tertentu, ini bisa membahayakan ginjal,” kata Dicky, Jumat (25/9/2026).
Menurutnya, fenomena pasien usia 20 hingga 30 tahun yang harus menjalani hemodialisis tidak dapat langsung disimpulkan hanya disebabkan pola makan atau konsumsi minuman manis.
Dicky menjelaskan penyakit ginjal kronis memiliki banyak faktor penyebab dan kondisi setiap pasien bisa berbeda.
Hemodialisis umumnya diperlukan ketika fungsi ginjal telah mengalami penurunan berat. Sejumlah penyebab yang kerap ditemukan pada pasien dialisis antara lain hipertensi, diabetes, penyakit glomerulus, serta gangguan ginjal lainnya.
Pada pasien yang masih sangat muda, faktor lain juga dapat berperan, seperti kelainan bawaan, gangguan struktur ginjal, penyakit autoimun, hingga glomerulonefritis.
“Kalau kita melihat orang usia 20-30 tahunan menjalani hemodialisis, tidak bisa kita langsung menyimpulkan karena sering minum manis atau makan junk food,” ujarnya.
Meski demikian, Dicky mengatakan pola hidup tetap menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit ginjal.
Konsumsi minuman berpemanis, makanan tinggi kalori dan garam, kurang aktivitas fisik, obesitas, hipertensi, serta diabetes dapat berkontribusi terhadap kerusakan pembuluh darah dan fungsi ginjal dalam jangka panjang.
“Jadi bukan satu gelas minuman manis yang membuat ginjal rusak, tapi juga pola paparan, faktor risiko yang terus-menerus lama,” kata Dicky.
Jurnalis Rakyat-Indonesia.com yang menyajikan informasi aktual, faktual, dan berimbang untuk pembaca.

