Health

Ads

News

Politik

Daerah

Video

Tuesday, June 30, 2026

"Menyingkap Misteri Peradaban Kediri, Dua Situs Raksasa yang Masih Terkubur Tanah"

 

Situs Adan-Adan yang ekskavasinya belum rampung (photo by radar kediri)


Kediri- Di balik hamparan sawah dan permukiman yang tenang di Kabupaten Kediri, tersimpan jejak sebuah peradaban besar yang hingga kini belum sepenuhnya terungkap. Di bawah lapisan tanah yang selama ratusan tahun menyimpan rahasia sejarah, para arkeolog meyakini terdapat kompleks bangunan kuno berskala luas yang menjadi saksi berkembangnya peradaban Hindu di Jawa Timur pada masa lampau.

Dua situs purbakala, yakni Situs Tondowongso di Desa Gayam dan Situs Adan-Adan di Desa Adan-Adan, Kecamatan Gurah, menjadi bukti bahwa Kediri pernah memiliki pusat kebudayaan yang sangat maju. Sayangnya, berbagai keterbatasan membuat potensi besar tersebut belum sepenuhnya tergali. Padahal, jika penelitian dapat dilakukan secara menyeluruh, bukan tidak mungkin Kediri memiliki destinasi wisata sejarah yang mampu menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah, bahkan mancanegara.

Tondowongso, Potongan Kecil dari Peradaban Besar

Situs Tondowongso berada di Desa Gayam, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Kompleks cagar budaya ini dikenal sebagai salah satu penemuan arkeologi klasik Hindu-Syiwa terbesar di Jawa Timur dalam beberapa dekade terakhir. Para peneliti meyakini situs tersebut menyimpan informasi penting mengenai masa transisi perkembangan kebudayaan Hindu dari Jawa Tengah menuju Jawa Timur.

Potensi sejarah yang dimiliki situs ini sangat besar. Namun, hingga kini masyarakat baru dapat melihat sebagian kecil dari keseluruhan kompleks bangunan kuno tersebut.

Di lokasi, pengunjung akan menjumpai struktur bangunan batu yang telah diberi pelindung atau cungkup. Meski belum sepenuhnya tergali, situs tersebut tetap menjadi tujuan masyarakat yang ingin melihat langsung peninggalan sejarah. Tidak hanya wisatawan, sejumlah orang juga datang untuk melakukan ritual pada malam hari.

"Kalau pengunjung rata-rata sekitar 10 sampai 20 orang setiap hari. Tidak hanya wisatawan, kadang malam juga ada yang datang untuk melakukan ritual," ujar Edi Saputro, juru pelihara Situs Tondowongso.

Meski setiap hari menerima kunjungan, fasilitas pendukung wisata di kawasan tersebut masih sangat terbatas. Jalan menuju lokasi belum sepenuhnya memadai, area parkir masih sederhana, sementara fasilitas dasar seperti toilet belum tersedia. Kondisi itu tentu belum sebanding dengan besarnya nilai sejarah yang dimiliki situs tersebut.

Ditemukan Secara Tidak Sengaja

Awal mula penemuan Situs Tondowongso terjadi pada akhir 2006. Saat itu seorang warga secara tidak sengaja menemukan susunan batu kuno ketika melakukan aktivitas di lahannya. Penemuan tersebut kemudian dilaporkan kepada pihak berwenang dan menjadi awal penelitian arkeologi yang lebih mendalam.

Ekskavasi pertama dilakukan pada 2007. Setelah itu penelitian berlanjut hampir setiap tahun hingga 2014. Memasuki beberapa tahun berikutnya, kegiatan penggalian sempat terhenti sebelum akhirnya kembali dilakukan pada dekade 2020-an.

"Terakhir tahun 2025 hanya untuk pemasangan cungkup," kata Edi.

Serangkaian penelitian yang telah dilakukan menghasilkan berbagai temuan penting. Arkeolog berhasil mengidentifikasi keberadaan sebuah candi induk, tiga candi perwara, gapura, hingga struktur pagar yang mengelilingi kompleks bangunan.

Selain struktur bangunan, pada awal penelitian juga ditemukan sedikitnya 14 arca yang kini disimpan dan dirawat di Museum Sri Aji Jayabaya sebagai upaya pelestarian.

Meski demikian, seluruh temuan tersebut diperkirakan baru sebagian kecil dari kompleks yang sebenarnya.

Baru Tergali Sekitar 10 Persen

Para peneliti memperkirakan luas keseluruhan Situs Tondowongso mencapai sekitar 12 hektare. Namun, bagian yang telah berhasil diekskavasi diperkirakan baru sekitar 10 persen.

Masih banyak bagian bangunan yang diyakini terkubur di bawah permukaan tanah. Bahkan, kaki bangunan candi diperkirakan berada sekitar tiga meter di bawah permukaan.

"Kalau dilakukan penggalian lagi kemungkinan baru akan ketemu sekitar tiga meter sampai ke dasar," jelas Edi.

Artinya, bentuk candi yang selama ini terlihat masih jauh dari wujud aslinya. Apabila keseluruhan struktur berhasil diungkap, ukuran kompleks tersebut diperkirakan jauh lebih megah dibandingkan kondisi yang terlihat sekarang.

Ekskavasi Terkendala Anggaran

Terhentinya penelitian bukan berarti para arkeolog telah menyelesaikan pekerjaannya. Menurut Edi, proses ekskavasi memang tidak bisa dilakukan sekaligus.

Setiap kegiatan penggalian biasanya hanya berlangsung sekitar 10 hari. Waktu yang singkat tersebut membuat penelitian berjalan secara bertahap.

Selain itu, keterbatasan anggaran juga menjadi faktor utama. Tim arkeologi harus membagi sumber daya untuk melakukan penelitian di berbagai situs sejarah lain yang tersebar di sejumlah daerah.

Akibatnya, proses pembukaan situs berjalan sangat lambat.

"Kalau nanti bagian bawahnya sudah kelihatan, tampilannya tentu lebih bagus. Orang datang juga akan lebih tertarik," ujarnya.

Status Lahan Menjadi Kendala

Persoalan lain yang belum terselesaikan adalah status kepemilikan lahan.

Pemerintah Kabupaten Kediri hingga kini baru memiliki lahan sekitar 9.700 meter persegi atau belum mencapai satu hektare. Padahal, keseluruhan kawasan Situs Tondowongso diperkirakan memiliki luas sekitar 12 hektare.

Akibatnya, sebagian besar struktur penting, termasuk pagar terluar kompleks candi, masih berada di atas lahan milik warga.

"Yang masih berada di lahan warga itu bagian tembok terluarnya. Perkiraan luas keseluruhan situs sekitar 12 hektare," kata Edi.

Kondisi tersebut membuat penelitian maupun pengembangan kawasan wisata tidak dapat dilakukan secara maksimal. Di sisi lain, warga pemilik lahan juga tidak bebas memanfaatkan tanah mereka karena terdapat tinggalan arkeologi yang harus dilindungi.

Hingga kini belum ada kepastian kapan ekskavasi lanjutan akan kembali dilakukan. Dalam waktu dekat, agenda yang direncanakan hanya berupa pemasangan cungkup tambahan pada bangunan candi induk.

Adan-Adan, Situs Besar yang Masih Terkubur

Kondisi serupa juga terjadi di Situs Adan-Adan yang berada tidak jauh dari Tondowongso.

Situs ini diyakini memiliki nilai sejarah yang tidak kalah penting. Bahkan, luas kawasan yang diperkirakan mencapai puluhan hektare disebut-sebut melebihi kompleks Candi Borobudur.

Namun, sebagian besar kawasan tersebut hingga kini masih tertutup tanah.

Juru pelihara Situs Adan-Adan, Ikhwan, mengatakan penelitian arkeologi telah dilakukan sebanyak lima kali sejak situs ditemukan pada 2016.

Ekskavasi berlangsung hampir setiap tahun hingga 2022. Penelitian sempat terhenti ketika pandemi Covid-19 melanda.

"Terakhir tahun 2022. Waktu itu pemasangan cungkup sama penggalian di Dusun Genuk yang menemukan tempayan. Setelah itu belum ada lagi," ujarnya.

Selain menemukan struktur bangunan kuno, penelitian juga berhasil mengungkap keberadaan tempayan kuno serta berbagai artefak lain yang menjadi petunjuk kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Lebih Besar dari Borobudur

Salah satu fakta yang menarik perhatian para peneliti adalah ukuran makara atau ornamen pintu candi yang ditemukan di Adan-Adan.

Menurut Ikhwan, ukuran makara tersebut bahkan lebih besar dibandingkan makara yang terdapat di Candi Borobudur.

Temuan itu menjadi indikasi bahwa kompleks bangunan di Adan-Adan kemungkinan memiliki skala yang sangat besar.

Meski demikian, bagian yang berhasil dibuka hingga kini masih sangat kecil. Area utara dan barat sama sekali belum pernah dilakukan penggalian.

"Kalau persentasenya masih sangat kecil. Yang bagian utara sama barat itu belum pernah dibuka sama sekali," jelasnya.

Makam dan Status Lahan Hambat Penelitian

Proses penelitian di Situs Adan-Adan menghadapi tantangan yang lebih rumit.

Salah satu kendala utama adalah keberadaan pemakaman umum di sisi utara situs.

Lokasi yang diduga menyimpan struktur bangunan kuno berada tepat di bawah area pemakaman sehingga ekskavasi tidak dapat dilakukan tanpa mempertimbangkan relokasi makam ataupun penentuan titik penelitian baru.

"(Titik penggalian) itu kan di bawahnya makam," kata Ikhwan.

Selain persoalan teknis tersebut, seluruh kawasan situs hingga kini masih berada di atas tanah milik masyarakat.

"Masih milik pribadi semua. Belum ada yang dibebaskan," ujarnya.

Akibatnya, penelitian maupun upaya pengembangan kawasan wisata belum bisa dilakukan secara menyeluruh.

Di sisi lain, warga pemilik lahan juga mengalami kerugian karena sebagian tanah yang telah dipasangi pelindung situs tidak lagi dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, sementara kepastian pembebasan lahan belum juga ada.

Menunggu Komitmen Pemerintah

Kelanjutan penelitian di kedua situs tersebut sepenuhnya bergantung pada kebijakan pemerintah dan ketersediaan anggaran.

"Kalau soal ekskavasi kami menunggu instruksi dari dinas. Pendanaan juga dari sana," ujar Ikhwan.

Padahal, apabila seluruh kompleks berhasil diungkap dan direkonstruksi, Adan-Adan diyakini mampu menjadi salah satu destinasi wisata sejarah terbesar di Jawa Timur.

Salah satu daya tarik utamanya adalah keberadaan Arca Mahakala yang tergolong sangat langka.

Dalam beberapa waktu terakhir, popularitas situs tersebut mulai meningkat setelah sejumlah konten mengenai Adan-Adan viral di media sosial.

Jika sebelumnya kawasan itu relatif sepi, kini jumlah pengunjung saat akhir pekan dan hari libur dapat mencapai sekitar 300 orang.

"Kalau bisa dibuka semua saya yakin banyak yang tertarik datang ke sini. Bisa lebih ramai seperti Borobudur ataupun Prambanan," tutur Ikhwan.

Potensi besar yang dimiliki Situs Tondowongso dan Adan-Adan menjadi pengingat bahwa masih banyak lembar sejarah Nusantara yang belum sepenuhnya terbuka. Di balik tanah Kediri, tersimpan kisah peradaban yang menunggu untuk diungkap. Dengan penelitian yang berkelanjutan, dukungan anggaran, serta penyelesaian persoalan lahan, bukan tidak mungkin dua situs tersebut kelak menjadi ikon wisata sejarah nasional sekaligus memperkaya pemahaman tentang perjalanan panjang peradaban di Pulau Jawa.(red/lis)

Residivis 11 Kali Masuk Penjara Kembali Ditangkap, Curi Dua Cincin Emas di Solo dan Terlibat Penjambretan

Residivis yang beraksi di 11 lokasi diamankan Polresta Solo (Photo by radar solo)


SOLO- Jeruji besi tampaknya belum mampu memberikan efek jera bagi UD (42), warga Kecamatan Jebres, Kota Solo. Meski telah belasan kali berhadapan dengan hukum, pria tersebut kembali ditangkap aparat kepolisian setelah diduga melakukan pencurian dua cincin emas di sebuah toko emas yang berada di Jalan Kapten Pierre Tendean, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari, Solo. Polisi mengungkapkan bahwa UD merupakan seorang residivis yang telah 11 kali keluar masuk lembaga pemasyarakatan karena berbagai tindak pidana.

Kasus pencurian yang sempat menjadi perhatian publik dan viral di media sosial itu terjadi pada Rabu, 10 Juni 2026. Korban diketahui merupakan pemilik toko emas berinisial LN. Berdasarkan hasil penyelidikan, pelaku datang ke toko dengan menyamar sebagai calon pembeli sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dari para karyawan.

Wakapolresta Solo, AKBP Sigit, menjelaskan bahwa sebelum melancarkan aksinya, UD berpura-pura tertarik membeli perhiasan. Ia beberapa kali meminta karyawan mengambilkan berbagai model cincin emas, kemudian memintanya untuk dipakaikan di jari dengan alasan ingin memastikan ukuran dan kecocokan.

"Pelaku berpura-pura membeli, meminta mencoba beberapa cincin emas, kemudian meminta lagi dan mencoba lagi. Saat karyawan lengah, tersangka langsung merebut dua cincin emas lalu melarikan diri menggunakan sepeda motor Honda Beat yang sudah disiapkan," ujar AKBP Sigit dalam konferensi pers yang digelar pada Selasa (30/6/2026).

Aksi tersebut berlangsung sangat cepat. Ketika perhatian karyawan teralihkan, pelaku langsung membawa kabur dua cincin emas yang sedang dicobanya. Setelah berhasil menguasai barang curian, ia segera melarikan diri menggunakan sepeda motor Honda Beat yang telah diparkir di depan toko sebagai sarana pelarian.

Menerima laporan dari korban, Satreskrim Polresta Solo segera melakukan serangkaian penyelidikan. Tim penyidik mengumpulkan berbagai petunjuk, termasuk rekaman kamera pengawas (CCTV), keterangan para saksi, serta melakukan pelacakan terhadap identitas pelaku. Berkat penyelidikan yang intensif, polisi akhirnya berhasil mengetahui keberadaan UD.

Petugas kemudian melakukan pembuntutan hingga akhirnya berhasil menangkap pelaku di kawasan Pasar Legi, Solo, tanpa perlawanan berarti.

"Satreskrim melakukan pembuntutan hingga akhirnya pelaku berhasil ditangkap di wilayah Solo," kata AKBP Sigit.

Dalam penangkapan tersebut, polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti yang diduga berkaitan dengan aksi kejahatan pelaku. Barang bukti tersebut meliputi satu unit sepeda motor Honda Beat yang digunakan saat melakukan pencurian, sebuah telepon genggam, pakaian yang dikenakan ketika beraksi, helm, serta kartu identitas milik tersangka.

Selama proses pemeriksaan, UD mengaku melakukan pencurian karena alasan ekonomi. Namun demikian, pihak kepolisian menilai alasan tersebut tidak menghapus fakta bahwa tersangka merupakan pelaku berulang dengan rekam jejak kriminal yang panjang.

"Motifnya ekonomi. Tersangka ini sudah 11 kali keluar masuk penjara sehingga masuk kategori residivis," ungkap AKBP Sigit.

Pengembangan penyidikan kemudian mengungkap fakta baru. Selain terlibat dalam pencurian di toko emas, UD juga diduga menjadi pelaku penjambretan yang terjadi di kawasan Jebres pada Jumat, 19 Juni 2026, sekitar pukul 22.00 WIB.

Dalam kasus tersebut, korban berinisial MC baru saja selesai makan di sebuah warung ketika tiba-tiba tas yang dibawanya dirampas pelaku. Di dalam tas tersebut terdapat sebuah tablet, dokumen pribadi, serta sejumlah barang berharga lainnya. Total kerugian yang dialami korban diperkirakan mencapai sekitar Rp5 juta.

"Awalnya kami mengungkap satu kasus. Setelah dikembangkan ternyata pelaku yang sama juga melakukan aksi di TKP lain," jelas AKBP Sigit.

Saat dilakukan penangkapan, polisi masih menemukan tablet milik korban penjambretan berada dalam penguasaan tersangka sehingga barang tersebut berhasil diamankan sebagai barang bukti. Sementara itu, dua cincin emas hasil pencurian di toko emas diketahui telah dijual oleh pelaku. Aparat kepolisian saat ini masih melakukan penelusuran untuk mengetahui kepada siapa barang tersebut dijual sekaligus membuka kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat.

"Untuk emas hasil pencurian sudah dijual. Sedangkan barang bukti dari TKP kedua berupa tablet masih berhasil diamankan karena belum sempat dijual," terang AKBP Sigit.

Atas perbuatannya, UD kini harus kembali mempertanggungjawabkan tindakannya di hadapan hukum. Dalam perkara pencurian cincin emas, penyidik menjerat tersangka dengan Pasal 477 KUHP tentang tindak pidana pencurian yang diancam hukuman maksimal tujuh tahun penjara. Sementara itu, untuk perkara penjambretan, penyidik menerapkan Pasal 476 KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun.

Polresta Solo menegaskan bahwa penyidikan masih terus dikembangkan. Aparat tidak menutup kemungkinan adanya lokasi kejadian lain maupun korban tambahan yang belum melapor, mengingat tersangka memiliki riwayat kriminal yang panjang dan telah berulang kali melakukan tindak kejahatan. Polisi juga mengimbau masyarakat yang merasa pernah menjadi korban dengan ciri-ciri pelaku serupa agar segera melapor guna membantu proses pengungkapan kasus secara menyeluruh.(red/lis)

Monday, June 29, 2026

Empat Orang Jadi Korban Pembacokan Usai Hadiri Pengesahan Perguruan Silat di Boyolali, Pelaku Bermodus Bertopeng

 

Ilustrasi pembacokan di jalan (photo by radar solo)


BOYOLALI- Peristiwa berdarah mengguncang wilayah Boyolali pada Minggu (28/6/2026) malam hingga Senin (29/6/2026) dini hari. Dalam rentang waktu kurang dari satu jam, aksi pembacokan terjadi di tiga titik berbeda yang berada di Kecamatan Sambi dan Kecamatan Banyudono. Akibat serangkaian serangan tersebut, empat orang mengalami luka bacok dan harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Seluruh korban diketahui baru saja mengikuti kegiatan pengesahan anggota salah satu perguruan silat. Saat dalam perjalanan pulang, mereka diduga menjadi sasaran kelompok pelaku yang telah menunggu di sejumlah lokasi.

Kasi Humas Polres Boyolali AKP Winarsih menjelaskan, insiden pertama terjadi di Desa Trosobo, Kecamatan Sambi, sekitar pukul 00.30 WIB. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, empat orang pelaku yang mengendarai dua sepeda motor menghadang rombongan korban yang terdiri atas tujuh sepeda motor dengan total 14 orang.

Tanpa banyak bicara, para pelaku yang membawa senjata tajam langsung menyerang korban menggunakan senjata tersebut. Dari informasi yang diperoleh di lokasi kejadian, seluruh pelaku menutupi identitas mereka dengan mengenakan topeng.

"Langsung menyabetkan sajam. Informasi yang kami dapat dari lokasi, pelaku memakai topeng," ujar AKP Winarsih, Senin (29/6/2026).

Polisi menduga korban yang diserang merupakan anggota rombongan yang tertinggal dari kelompok besarnya sehingga menjadi target yang lebih mudah. Selain mengakibatkan korban mengalami luka bacok, para pelaku juga membakar sepeda motor milik korban sebelum melarikan diri.

Sekitar 30 menit kemudian, aksi serupa kembali terjadi di wilayah Kecamatan Banyudono. Kali ini, dua orang yang sedang berhenti di tepi jalan untuk buang air kecil tiba-tiba didatangi sekelompok pelaku bertopeng. Tanpa peringatan, korban langsung diserang menggunakan senjata tajam hingga mengalami luka-luka. Tak hanya melakukan pembacokan, pelaku juga membakar sepeda motor milik kedua korban.

Akibat kejadian tersebut, dua korban dari insiden di Kecamatan Sambi dilarikan ke RS Asy Syifa Sambi untuk mendapatkan penanganan medis. Sementara itu, dua korban lainnya yang menjadi sasaran pembacokan di Banyudono dievakuasi ke RS Indriati guna menjalani perawatan intensif.

Hingga kini, kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap identitas para pelaku dan motif di balik serangkaian aksi kekerasan tersebut. Petugas juga terus mengumpulkan keterangan saksi serta barang bukti dari lokasi kejadian guna memburu para pelaku yang hingga kini masih dalam pengejaran.(red/lis)

Korban Pengeroyokan di Kendangsari Surabaya Sebut Pelaku Diduga Remaja, Kaos Atribut Silat Ikut Dirampas

PERAWATAN: Korban pengeroyokan di Jalan Kendangsari, Surabaya, saat mendapat penanganan medis di rumah sakit (photo by radar surabaya)



SURABAYA- Kasus pengeroyokan yang menimpa dua pemuda di kawasan Jalan Kendangsari Industri, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Surabaya, hingga kini masih dalam penyelidikan aparat kepolisian. Salah seorang korban, Ibrahim (18), mengaku tidak mengenali para pelaku yang menyerangnya secara brutal pada Senin (22/6) dini hari.

Menurut Ibrahim, kelompok pelaku diduga berusia sekitar 17 tahun ke atas. Setelah melakukan pengeroyokan, para pelaku disebut melarikan diri ke arah kawasan Jemur Andayani. Berdasarkan pengamatannya, para pelaku diduga merupakan warga Surabaya.

"Saya sama sekali tidak kenal dengan mereka. Usianya sekitar 17 tahun ke atas. Setelah kejadian mereka kabur ke arah Jemur. Sepertinya anak Surabaya," ujar Ibrahim, Minggu (28/6).

Tidak hanya melakukan penganiayaan, para pelaku juga diduga merampas barang milik korban. Ibrahim menjelaskan bahwa kaos beratribut perguruan silat yang dikenakan rekannya, Ilham, diambil secara paksa. Selain itu, pelaku juga mencabut kunci kontak sepeda motor yang mereka gunakan.

"Yang memakai kaos atribut silat itu Ilham. Yang diambil cuma kaos sama kunci kontak motor," ungkapnya.

Sementara itu, kondisi Ilham yang mengalami luka di bagian punggung akibat diduga terkena tusukan senjata tajam kini mulai membaik. Ia telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, namun masih menjalani masa pemulihan akibat luka yang dideritanya.

Ibrahim juga mengaku belum menerima informasi mengenai penangkapan para pelaku. Hingga saat ini, menurutnya, seluruh pelaku masih berkeliaran dan belum berhasil diamankan oleh pihak kepolisian.

Kronologi Kejadian

Peristiwa pengeroyokan tersebut terjadi pada Senin (22/6) sekitar pukul 04.00 WIB di Jalan Kendangsari Industri, Surabaya. Saat itu Ibrahim dan Ilham baru saja pulang setelah menghabiskan waktu bersama di kawasan Rungkut.

Keduanya mengendarai sepeda motor Honda Supra X dengan posisi Ilham dibonceng. Ketika melintas di Jalan Kendangsari Industri dan hendak berbelok menuju Kutisari, mereka bertemu dengan rombongan pengendara motor yang diduga sedang melakukan konvoi.

"Saya mau belok ke Kutisari tidak bisa karena ramai. Akhirnya saya lurus. Setelah melewati depan kantor PDIP, kami langsung diserang," tutur Ibrahim.

Tanpa diduga, rombongan tersebut langsung menghentikan laju kendaraan korban. Beberapa pelaku menendang sepeda motor hingga keduanya terjatuh. Selain itu, baju yang dikenakan Ilham juga sempat ditarik oleh para pelaku sebelum pengeroyokan berlangsung.

Ibrahim mengaku sempat menjadi sasaran pukulan beberapa orang. Setelah berhasil berdiri, ia berusaha menyelamatkan diri. Namun nahas, Ilham justru menjadi sasaran utama pengeroyokan yang dilakukan oleh belasan orang.

Menurut perkiraannya, jumlah pelaku mencapai sekitar 15 orang atau lebih. Mereka datang menggunakan sejumlah sepeda motor dan sebagian mengenakan pakaian beratribut perguruan silat.

"Jumlahnya sekitar 15 orang lebih. Mereka datang naik motor banyak. Dari cerita Ilham saat kami membuat laporan, para pelaku memakai baju pencak silat," jelasnya.

Akibat aksi kekerasan tersebut, Ilham mengalami dua luka di bagian punggung yang diduga akibat tusukan benda tajam sehingga harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Royal Surabaya. Sementara Ibrahim mengalami luka memar pada punggung dan bibir, serta nyeri di bagian telinga akibat pukulan menggunakan benda tumpul yang diduga berupa ruyung.

"Alhamdulillah kondisinya sekarang sudah stabil. Tapi kalau batuk atau tertawa masih terasa sakit. Saya sendiri mengalami memar di punggung dan bibir, telinga juga masih nyeri karena dipukul menggunakan ruyung," kata Ibrahim.

Ia juga mengungkapkan bahwa beberapa pelaku membawa senjata, di antaranya dua senjata tajam, sebuah ruyung, dan sebatang kayu panjang yang diduga digunakan saat melakukan penyerangan.

Usai kejadian, kedua korban langsung melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Tenggilis Mejoyo. Mereka berharap aparat kepolisian segera menangkap seluruh pelaku agar kejadian serupa tidak kembali menimpa masyarakat.

"Kami berharap pelaku segera ditangkap. Kami sudah menjadi korban dan tidak ingin mereka kembali beraksi terhadap warga lain yang tidak tahu apa-apa," harap Ibrahim.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Tenggilis Mejoyo, Iptu Bagus Tri, membenarkan adanya laporan terkait kasus pengeroyokan tersebut. Ia menyatakan bahwa pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan dan memburu seluruh pelaku yang terlibat.

"Masih dalam pencarian pelaku," ujar Bagus singkat.(red/lis)

Sunday, June 28, 2026

Bromo Sky Bridge Resmi Dibuka, Sajikan Sensasi Berjalan di Atas Jembatan Kaca Setinggi 100 Meter

  

SOFT LAUNCHING: Sejumlah warga menikmati sensasi jalan di jembatan kaca Bromo. (photo by radar bromo)


BROMO- Destinasi wisata baru di kawasan penyangga Gunung Bromo, Bromo Sky Bridge, resmi dibuka untuk umum pada Sabtu (27/6). Kehadiran jembatan kaca tersebut langsung menarik perhatian masyarakat dan wisatawan yang sedang berkunjung ke kawasan Bromo. Sejak hari pertama beroperasi, lokasi ini dipadati pengunjung yang ingin merasakan pengalaman berjalan di atas jembatan kaca sambil menikmati panorama megah Kaldera Bromo dari ketinggian.

Presiden Direktur The Lawu Grup, Parmin Sastro, mengatakan bahwa pembangunan Bromo Sky Bridge tidak hanya bertujuan menambah pilihan destinasi wisata di kawasan Bromo, tetapi juga diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar melalui peningkatan sektor pariwisata dan ekonomi lokal.

Menurutnya, pengembangan destinasi wisata harus mampu menghadirkan pengalaman yang berkesan bagi wisatawan sekaligus menciptakan manfaat bagi pelaku usaha dan warga di sekitar kawasan wisata.

"Kami mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama membangun destinasi wisata yang memberikan pengalaman berbeda dan meninggalkan kesan mendalam bagi setiap pengunjung. Kami juga berharap mendapat doa dan dukungan agar wisata ini terus berkembang," ujarnya.

Parmin menjelaskan bahwa Bromo Sky Bridge mengusung konsep wisata adrenalin yang berbeda dengan destinasi lain di kawasan Bromo. Pengunjung dapat menikmati keindahan bentang alam dari sudut pandang baru melalui jembatan kaca yang membentang di atas lembah dengan sensasi berjalan di atas ketinggian.

Jembatan kaca tersebut memiliki panjang sekitar 120 meter dan berada di ketinggian kurang lebih 100 meter dari permukaan tanah. Dengan karakteristik tersebut, Bromo Sky Bridge diklaim sebagai salah satu jembatan kaca tertinggi di Indonesia yang menawarkan perpaduan antara wisata alam dan tantangan bagi para pencinta adrenalin.

"Ini memang destinasi wisata yang dirancang khusus bagi wisatawan yang ingin merasakan sensasi berbeda. Saat berjalan di atas jembatan, pengunjung dapat menikmati panorama pegunungan dan Kaldera Bromo dari ketinggian yang memacu adrenalin," jelasnya.

Untuk menikmati wahana ini, pengelola menetapkan tarif masuk sebesar Rp55 ribu bagi wisatawan domestik dan Rp110 ribu untuk wisatawan mancanegara. Menurut Parmin, harga tersebut masih tergolong kompetitif apabila dibandingkan dengan sejumlah destinasi jembatan kaca serupa di Bali maupun di China.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS), Rudijanta Tjahja Nugraha, menilai kehadiran Bromo Sky Bridge dapat membantu mendistribusikan arus wisatawan yang selama ini terkonsentrasi di beberapa titik favorit untuk menikmati matahari terbit.

Ia menjelaskan bahwa selama ini kepadatan wisatawan kerap terjadi di lokasi-lokasi sunrise seperti Penanjakan dan Bukit Kingkong. Dengan adanya alternatif baru berupa jembatan kaca, wisatawan memiliki lebih banyak pilihan untuk menikmati panorama Bromo sehingga potensi kemacetan maupun penumpukan pengunjung dapat dikurangi.

"Ke depan wisatawan tidak hanya menikmati matahari terbit dari satu lokasi, tetapi juga dapat menikmati pemandangan dari jembatan kaca. Hal ini diharapkan mampu mengurangi kepadatan di titik-titik tertentu," katanya.

Antusiasme masyarakat terhadap destinasi baru ini terlihat sejak hari pertama pembukaan. Banyak wisatawan rela mengantre untuk mencoba berjalan di atas lantai kaca sambil mengabadikan momen dengan latar belakang bentangan Kaldera Bromo yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.

Di sisi lain, tingginya jumlah pengunjung juga menjadi ujian awal bagi pengelola dalam menerapkan sistem pengelolaan serta standar keselamatan. Untuk menjaga keamanan dan kenyamanan, sejumlah aturan diberlakukan secara ketat.

Setiap pengunjung diwajibkan mengenakan pelindung alas kaki (shoe cover) sebelum memasuki area jembatan guna menjaga kualitas kaca. Anak-anak harus selalu berada dalam pengawasan orang tua selama berada di atas jembatan. Selain itu, kapasitas pengunjung dibatasi hanya sekitar 30 hingga 40 orang dalam satu waktu agar beban tetap sesuai standar keamanan.

Pengelola juga melarang berbagai aktivitas yang berpotensi membahayakan, seperti berlari, melompat, mengguncang jembatan, duduk di lantai kaca, maupun memanjat pagar pembatas.

Salah seorang wisatawan asal Blitar, Siti Mukarromah (55), mengaku sengaja mencoba wahana tersebut saat berlibur bersama keluarganya di Bromo. Meski memiliki rasa takut terhadap ketinggian, ia tetap memberanikan diri untuk berjalan di atas jembatan kaca.

"Kebetulan kami sedang berlibur di Bromo, lalu mengetahui ada wisata baru yang baru dibuka. Akhirnya kami memutuskan untuk mencoba," ujarnya.

Siti mengaku pengalaman tersebut memberikan kesan tersendiri karena dapat menikmati panorama alam yang indah dari sudut pandang yang berbeda. Namun demikian, ia berharap ke depan tersedia tambahan fasilitas berupa jaring pengaman di bawah jembatan agar pengunjung yang memiliki ketakutan terhadap ketinggian merasa lebih nyaman.

"Menurut saya, kalau ada jaring pengaman di bawah jembatan mungkin pengunjung yang takut ketinggian akan lebih tenang. Semoga ke depan semakin banyak inovasi wisata di sekitar Bromo sehingga wisatawan selalu tertarik untuk kembali berkunjung," katanya.

Hal senada disampaikan Yoga (28), wisatawan asal Bondowoso. Ia mengaku penasaran setelah melihat informasi mengenai pembukaan Bromo Sky Bridge saat sedang berwisata di kawasan Bromo.

"Saya memang sedang jalan-jalan ke Bromo. Setelah melihat ada jembatan kaca yang baru dibuka, saya langsung tertarik untuk mencobanya," tuturnya.

Sementara itu, Yana (38), wisatawan asal Kediri yang mengaku memiliki fobia terhadap ketinggian, tetap berusaha menikmati pengalaman tersebut meski tidak berani berjalan hingga ke bagian tengah jembatan.

"Saya memang takut ketinggian, jadi hanya berjalan sampai sebagian saja. Meski begitu, menurut saya tempatnya sangat menarik dan pemandangannya luar biasa indah," ungkapnya.

Kehadiran Bromo Sky Bridge diharapkan semakin memperkaya pilihan destinasi wisata di kawasan penyangga Gunung Bromo. Selain menawarkan pengalaman baru yang memadukan panorama alam dan sensasi adrenalin, keberadaan wahana ini juga diharapkan mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan, memperkuat ekonomi masyarakat sekitar, serta mendukung pemerataan kunjungan wisata di kawasan Bromo.(red/lis)

Penemuan Mortir di Madiun

EVAKUASI: Tim Jibom Satbrimob Polda Jawa Timur mengevakuasi mortir yang diduga masih aktif setelah ditemukan seorang pendulang emas di aliran Bengawan Madiun, tepatnya di bawah Jembatan Ring Road Timur.(photo by memorandum co.id)



MADIUN- Suasana di sekitar aliran Sungai Bengawan Madiun menjadi ramai dan penuh kewaspadaan pada sore hari, Sabtu (27 Juni 2026). Sebuah benda yang diduga berupa mortir aktif ditemukan oleh salah satu pendulang emas yang sedang bekerja di wilayah tersebut, tepatnya di bawah Jembatan Ring Road Timur.

Kejadian bermula ketika seorang pendulang emas asal Kabupaten Magetan sedang mengeruk dan menyaring material di dasar sungai. Ia menemukan benda keras yang kemudian dibawa ke tepi sungai untuk dibersihkan dari lumpur dan endapan air. Setelah bersih, bentuk benda tersebut terlihat sangat mirip dengan mortir, sebuah jenis amunisi yang berbahaya. Menyadari risiko yang ditimbulkannya, penemu segera melaporkan temuan tersebut ke kantor Polsek Manguharjo.

Mendapat laporan itu, petugas kepolisian langsung bergerak cepat menuju lokasi. Area sekitar penemuan segera dipagari dengan garis pembatas dan disterilkan agar tidak didekati warga maupun orang yang tidak berkepentingan. Selain itu, pihak kepolisian juga langsung menghubungi dan meminta bantuan Tim Penjinak Bom (Jibom) dari Satbrimob Polda Jawa Timur untuk menangani benda tersebut secara aman.

“Begitu menerima laporan, kami langsung mengamankan lokasi dan meminta bantuan Tim Jibom. Penanganan benda yang diduga bahan peledak ini tidak boleh dilakukan sembarangan, melainkan harus mengikuti prosedur standar yang berlaku demi keamanan semua pihak,” ujar Kapolsek Manguharjo, Kompol Lilik Sulastri.

Pada malam harinya, Tim Jibom tiba di lokasi dan segera melakukan evakuasi. Benda yang diduga mortir tersebut berukuran sekitar 25 sentimeter dan dipindahkan dengan menggunakan teknik serta peralatan khusus guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Seluruh proses pengamanan dan pemindahan berjalan lancar tanpa hambatan sedikit pun.

Setelah berhasil diamankan, benda peledak tersebut rencananya akan dimusnahkan secara resmi. Kompol Lilik menjelaskan bahwa proses pemusnahan atau disposal dijadwalkan berlangsung pada Minggu (28 Juni 2026). Lokasi yang dipilih adalah tempat yang aman, jauh dari permukiman warga, jalur lalu lintas, maupun fasilitas umum lainnya, guna meminimalkan risiko bahaya bagi masyarakat sekitar.(red/lis)

Saturday, June 27, 2026

ESDM Pastikan Pasokan Batu Bara PLN Aman, Pengawasan DMO Diperketat demi Ketahanan Energi

Kapal tongkang pengangkut batu bara lepas jangkar di Perairan Bojonegara, Serang, Banten.Photo by liputan6.com


JAKARTA- Pemerintah memastikan ketersediaan pasokan batu bara bagi pembangkit listrik milik PT PLN (Persero) dalam kondisi aman. Kepastian tersebut menjadi bagian dari langkah strategis pemerintah untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi di tengah tingginya kebutuhan listrik di berbagai daerah.

Sebagai bentuk antisipasi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya sempat melakukan penyesuaian sementara terhadap ekspor batu bara dengan spesifikasi tertentu. Kebijakan itu ditempuh agar kebutuhan batu bara dalam negeri, khususnya untuk pembangkit listrik PLN, tetap terpenuhi sesuai standar kualitas yang dibutuhkan.

Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menjelaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari fungsi pemerintah sebagai regulator dalam memastikan prioritas pasokan energi nasional tetap terjaga.

"Hingga saat ini pemerintah telah mengamankan sekitar 141 juta metrik ton (MT) batu bara atau sekitar 91,6 persen dari total kebutuhan PLN sepanjang tahun 2026 yang diperkirakan mencapai 154 juta MT," ujar Anggia di Jakarta, Jumat (26/6/2026).

Menurutnya, pembatasan ekspor hanya bersifat sementara dan dilakukan berdasarkan kondisi pasokan domestik serta kebutuhan operasional pembangkit listrik PLN. Setelah pasokan dalam negeri kembali stabil, aktivitas ekspor batu bara kini telah berjalan normal tanpa adanya pembatasan khusus.

"Langkah ini diambil sebagai bagian dari fungsi pengawasan Kementerian ESDM sebagai regulator. Seiring membaiknya kondisi pasokan dalam negeri, kegiatan ekspor batu bara kini telah kembali berjalan normal," katanya.

Dengan kondisi pasokan yang dinilai telah mencukupi, pemerintah memastikan pelaku usaha pertambangan dapat kembali menjalankan aktivitas ekspor sesuai ketentuan yang berlaku tanpa mengganggu kebutuhan energi nasional.

Pengawasan Pasokan Batu Bara Diperkuat

Selain menjamin ketersediaan batu bara, pemerintah juga memperkuat pengawasan terhadap proses pengadaan energi primer untuk pembangkit PLN. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mitigasi guna mencegah terulangnya potensi gangguan pasokan listrik akibat keterlambatan distribusi bahan bakar pembangkit.

Pengawasan tersebut akan dilakukan secara terpadu oleh tim yang melibatkan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Inspektorat Jenderal Kementerian ESDM, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba), serta PT PLN (Persero).

Menurut Anggia, sinergi antarinstansi tersebut bertujuan memastikan seluruh perusahaan tambang menjalankan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO), yakni kewajiban memasok sebagian produksi batu bara untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

"Langkah pengawasan yang dilakukan oleh tim dari BPKP, Kementerian ESDM, dan PLN bertujuan memastikan kewajiban DMO dilaksanakan sebagaimana mestinya sehingga pasokan batu bara bagi pembangkit tenaga listrik tetap terjamin," jelasnya.

Fokus pada Penegakan Aturan yang Sudah Berlaku

Kementerian ESDM menegaskan pemerintah tidak berencana menerbitkan regulasi baru terkait pembatasan ekspor batu bara. Sebaliknya, pemerintah memilih memperkuat implementasi serta penegakan regulasi yang telah ada agar pelaksanaan kewajiban DMO berjalan lebih efektif.

Menurut Anggia, kerangka hukum mengenai pemenuhan kebutuhan batu bara domestik sudah cukup kuat sehingga yang dibutuhkan saat ini adalah pengawasan yang lebih ketat terhadap pelaksanaannya.

Salah satu dasar hukum yang menjadi acuan adalah Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2025 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara. Regulasi tersebut mengatur kewajiban perusahaan pertambangan untuk memenuhi kebutuhan batu bara dalam negeri melalui mekanisme Domestic Market Obligation (DMO) sebelum melakukan ekspor.

Melalui penguatan pengawasan tersebut, pemerintah berharap ketersediaan energi primer bagi pembangkit listrik PLN tetap terjamin sepanjang tahun. Dengan pasokan batu bara yang aman, keandalan sistem kelistrikan nasional dapat terus dipertahankan sehingga masyarakat maupun sektor industri tidak terganggu oleh potensi krisis pasokan energi.

Di sisi lain, pemerintah juga berupaya menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan energi nasional dan keberlangsungan ekspor batu bara. Dengan demikian, sektor pertambangan tetap mampu memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional tanpa mengorbankan keamanan pasokan energi di dalam negeri.(red/lis)

Kamar Kos Berdarah, Wanita Ditemukan Tewas Luka Tusuk di Sawahan, Diduga Dibunuh Pasangan Hidupnya

Petugas BPBD Surabaya mengevakuasi jasad Suharti Ningsih (50), untuk dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim photo by memorandum co.id


SURABAYA- Warga lingkungan Jalan Putat Jaya Gang Lebar A, Kelurahan Sawahan, dikejutkan oleh peristiwa tragis ditemukannya sesosok mayat perempuan dalam kondisi mengenaskan di salah satu kamar kos pada hari Kamis, 25 Juni 2026, sekitar pukul 19.30 WIB. Korban yang tergeletak bersimbah darah dan dalam keadaan setengah telanjang itu diidentifikasi bernama Suharti Ningsih, atau akrab disapa Mbak Har, berusia 50 tahun, warga asal Dusun Jarak, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang.

Berdasarkan pemeriksaan awal, tubuh korban menunjukkan luka tusuk di bagian dada, disertai luka sayatan serta memar di beberapa bagian tubuh lainnya. Jasad Suharti pertama kali ditemukan oleh Rizky, cucu dari pemilik bangunan kos tersebut. Saat akan membuka akses masuk ke bangunan itu, Rizky mendapati pintu utama dalam keadaan terkunci dan digembok. Ia sempat memanggil-manggil penghuni namun tak mendapat jawaban. Setelah bertanya kepada warga sekitar termasuk Rani Sutarmi (47) dan tidak mengetahui siapa pemegang kunci, akhirnya gembok tersebut dibuka secara paksa oleh Rizky dengan bantuan warga lain.

Begitu pintu terbuka, Rizky masuk dan melihat pintu kamar korban yang biasanya selalu dikunci saat ditinggal, justru terbuka. Ia kemudian keluar dan menutup kembali pintu bangunan itu, lalu sempat berpamitan untuk pergi mengamen. Sebelum berangkat, ia menghubungi kerabatnya dan melaporkan bahwa dari arah kamar korban tercium bau amis yang sangat menyengat. Atas laporan itu, Rizky kembali ke lokasi bersama kerabatnya untuk melakukan pengecekan lebih lanjut.

Saat diperiksa bersama, mereka sangat terkejut mendapati Suharti terbaring tengkurap, dalam keadaan setengah telanjang dengan celana dalam yang turun hingga ke lutut. Darah terlihat membasahi tubuh dan lantai, bahkan menyembur hingga ke dinding kamar.
Selama lebih dari satu tahun terakhir, korban tinggal bersama seorang pria berinisial YT, yang diduga sebagai pasangannya. Menurut keterangan warga, Suharti sebelumnya bekerja sebagai wanita tuna susila. Ia sempat berhenti dan pergi meninggalkan kawasan itu saat masa penutupan lokalisasi Dolly. Pada tahun 2019, ia kembali menetap di tempat ini setelah sebelumnya sempat menikah, namun kemudian bercerai dan hidup sebagai janda. Sementara itu, YT yang diperkirakan berusia sekitar 40 tahun adalah seorang duda asal Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik. Warga mengaku tak pernah mendengar adanya pertengkaran hebat antara keduanya.

Yang mencurigakan, saat jasad ditemukan, YT tidak ada di lokasi dan keberadaannya tidak diketahui. Ia terakhir kali terlihat oleh warga pada malam Rabu, 24 Juni 2026. Sebelum kejadian, YT sempat menghubungi anak angkat korban bernama Dimas untuk menanyakan keberadaan Suharti.

Kapolsek Sawahan, Kompol Muljono, menyatakan bahwa pihak kepolisian menerima laporan melalui layanan Call Center 110, kemudian segera mendatangi tempat kejadian perkara bersama Tim Identifikasi TKP dan Forensik (Inafis) dari Polrestabes Surabaya. Berdasarkan pengamatan awal tim forensik, diduga kuat korban meninggal akibat pembunuhan, namun rincian penyebab kematian dan jenis luka yang diderita baru dapat dipastikan secara resmi setelah hasil pemeriksaan otopsi selesai.

Pemeriksaan juga menunjukkan bahwa barang-barang berharga milik korban seperti perhiasan masih utuh dan tidak ada yang hilang, sehingga motif pencurian untuk sementara dapat dikesampingkan. Hingga saat ini, polisi telah memeriksa dua orang saksi, termasuk kerabat dekat korban. Penyelidikan terus dilakukan untuk mengungkap identitas pelaku serta motif di balik peristiwa pembunuhan tersebut.(red/lis)

Friday, June 26, 2026

Lima Tahun Berjuang Melawan Penyakit Jantung, Endang Rasakan Manfaat JKN dalam Pengobatan

 

Endang Lestari, peserta Program JKN dari Mojo Kediri-photo by memorandum co.id





KEDIRI- Penyakit jantung menjadi salah satu penyakit kronis yang patut diwaspadai karena dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia maupun latar belakang. Sayangnya, gejala awal penyakit ini sering kali tidak disadari sehingga banyak penderita baru mengetahui kondisinya setelah penyakit berkembang lebih lanjut.

Pengalaman tersebut dialami oleh Endang Lestari (57), warga Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri. Selama kurang lebih lima tahun terakhir, ia harus menjalani kehidupan sebagai penyandang penyakit jantung. Kondisi tersebut sempat membatasi aktivitas sehari-harinya karena gejala yang dirasakan semakin mengganggu.

"Awalnya saya hanya merasakan nyeri di dada dan sesak seperti tertusuk benda tajam. Waktu itu saya sama sekali tidak menyangka kalau itu gejala penyakit jantung. Bahkan untuk berjalan beberapa langkah saja badan sudah terasa lemas, apalagi kalau harus berdiri cukup lama," ungkap Endang, Jumat (26/6).

Merasa kondisi kesehatannya semakin memburuk, Endang akhirnya memutuskan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan tingkat pertama. Setelah beberapa kali menjalani pengobatan namun belum menunjukkan perkembangan yang berarti, dokter memberikan rujukan ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Hasil pemeriksaan tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya. Endang dinyatakan menderita penyakit jantung dan harus menjalani pengobatan secara rutin hingga saat ini.

"Saya berobat dulu di faskes pertama. Karena belum ada perubahan akhirnya dirujuk ke rumah sakit, di situlah saya dinyatakan sakit jantung. Sekarang tinggal kontrol rutin dan minum obat sesuai anjuran dokter. Sebenarnya saya ingin mengikuti Program Rujuk Balik supaya kontrolnya lebih dekat, tetapi dokter menyampaikan kondisi jantung saya masih belum stabil sehingga harus tetap menjalani pemeriksaan di rumah sakit," jelasnya.

Sebagai peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Endang mengaku sangat terbantu dengan pelayanan kesehatan yang diterimanya. Menurutnya, seluruh proses pelayanan berjalan dengan baik selama mengikuti prosedur yang telah ditetapkan.

"Pelayanannya sangat bagus. Kalau kita mengikuti prosedur, semuanya terasa mudah. Selama menggunakan JKN saya juga tidak pernah merasa dibedakan dengan pasien umum. Obat-obatan selalu tersedia dan saya tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan," katanya.

Berkat pengobatan yang dijalani secara disiplin, kondisi kesehatan Endang kini berangsur membaik. Meski demikian, ia tetap berkomitmen menjalankan pola hidup sehat agar penyakitnya tetap terkendali. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengatur pola makan dengan mengurangi konsumsi makanan berlemak serta minuman manis, sekaligus menurunkan berat badan sesuai anjuran dokter.

"Sekarang saya lebih menjaga makanan. Minuman manis dan makanan berlemak mulai saya kurangi. Berat badan saya juga harus diturunkan karena dokter menjelaskan kalau tubuh terlalu gemuk, kerja jantung akan semakin berat akibat penumpukan lemak," tuturnya.

Tidak hanya memperbaiki pola makan, Endang juga berusaha tetap aktif berolahraga meskipun usianya tidak lagi muda. Ia rutin melakukan aktivitas fisik ringan yang disesuaikan dengan kemampuan tubuhnya sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan jantung.

"Kalau saya paling sering menggunakan treadmill. Di tempat gym juga banyak alat lain yang bisa dipakai bergantian, seperti sepeda statis maupun latihan beban ringan. Semua dilakukan dengan pendamping, jadi disesuaikan dengan kemampuan saya," ujarnya.

Bagi Endang, menjaga kesehatan tidak hanya bergantung pada pengobatan, tetapi juga membutuhkan komitmen menjalani gaya hidup yang lebih sehat. Ia berharap masyarakat semakin peduli terhadap kesehatan jantung dengan tidak mengabaikan gejala-gejala yang muncul sejak dini.

Di akhir perbincangan, Endang juga berharap kualitas pelayanan Program JKN yang selama ini dirasakannya tetap dipertahankan dan terus ditingkatkan melalui berbagai inovasi pelayanan berbasis teknologi.

"Saya sangat senang dan puas dengan kemudahan yang diberikan BPJS Kesehatan. Sekarang sudah ada Aplikasi Mobile JKN, jadi bisa mengambil antrean secara online. Pelayanannya menjadi lebih cepat dan antrean di rumah sakit juga tidak lagi menumpuk," pungkasnya.(red/lis)

Calon Manajer Koperasi Merah Putih Asal Lamongan Meninggal Saat Latsarmil di Kaltim

Peserta Latihan Dasar Militer (Latsarmil) Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) di Balikpapan, Kalimantan Timur.--photo by memorandum co.id




LAMONGAN – Kabar duka menyelimuti Kabupaten Lamongan. Salah satu putri terbaik daerah tersebut, Anisa Muyassaroh, peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) asal Kecamatan Kedungpring, dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil) di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Almarhumah merupakan peserta program yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertahanan (Kemenhan) sebagai bagian dari pembekalan bagi calon Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Dalam program tersebut, para peserta dibekali berbagai kemampuan kepemimpinan, kedisiplinan, serta wawasan kebangsaan sebelum nantinya mengemban tugas di daerah masing-masing.

Berdasarkan informasi yang beredar, Anisa diduga mengalami heat stroke saat menjalani rangkaian latihan. Ia sempat mendapatkan penanganan medis dari tim kesehatan satuan sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit. Namun, meski telah mendapat perawatan intensif, nyawa almarhumah tidak berhasil diselamatkan.

Komandan Kodim (Dandim) 0812 Lamongan, Letkol Inf Deni Suryo Anggo Digdo, membenarkan bahwa korban merupakan warga Kabupaten Lamongan. Meski demikian, pihaknya belum menerima kronologi lengkap mengenai insiden yang terjadi di lokasi latihan.

"Kejadiannya di Kalimantan. Untuk kronologi secara detail kami belum mengetahui secara pasti. Namun, Kodim 0812 Lamongan memberikan perhatian penuh kepada keluarga almarhumah, termasuk membantu proses pemulangan jenazah hingga pelaksanaan pemakaman," ujar Deni, Kamis malam (25/6).

Kepergian Anisa meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, maupun rekan-rekannya di lingkungan SPPI. Sosoknya dikenal memiliki semangat tinggi untuk mengabdi kepada bangsa melalui pembangunan desa. Dedikasinya mengikuti program SPPI sebagai persiapan menjadi Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih menjadi bukti komitmennya dalam ikut memajukan masyarakat.

Kepergian Anisa menjadi kehilangan besar bagi Kabupaten Lamongan. Semangat pengabdian, kerja keras, dan cita-citanya untuk membangun desa diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda agar terus berkontribusi bagi bangsa dan negara. Nama dan pengabdiannya akan selalu dikenang sebagai teladan dalam mengabdi untuk Indonesia.(red/lis)

Polri

Terkini

Sulsel

Kriminal

Ekonomi

© Copyright 2020 Rakyat-Indonesia.com | REFERENSI BERITA INDONESIA | All Right Reserved